Kamis, 21 April 2016

Makalah Definisi Kebudayaan Wujud kebudayaan dan Adat Istiadat


Definisi Kebudayaan, Wujud Kebudayaan, Dan Adat Istiadat
Makalah
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Perkuliahan Mata Kuliah Pengantar Antropologi Pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Raja Haji
Dosen Pengajar :
Alfi Husni, M.Si
Disusun Oleh :
Kelompok 5

1.      Beti feronika sirait      : 13101005
2.      Cindy Pratiwi              : 15101010
3.      Hetty Kusendang        : 15101036
4.      Hengki R.                    :
5.      Ilham                           : 15101039
6.      Nenny Triana              : 15101061
7.      Nurul Khaifa               : 15101067
8.      Ruth theresya              : 13101025
9.      Siska Adriana              : 15101086


Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Raja Haji Tanjungpinang
Tahun Akademik 2015/2016
           
Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr. Wb.
P
uji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan yang maha esa, karena dengan karunia-Nya kami dapat menyelesaiakan makalah kami yang berjudul “Definisi Kebudayaan, Wujud Kebudayaan dan Adat Istiadat ”. Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada teman-teman dari hasil makalah ini. Karena itu kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.
Kami amat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

        Wassalam

  Tanjungpinang , 25 Maret 2016

        Penyusun



Daftar Isi
·         Kata Pengantar.........................................................................................................         2
·         Daftar Isi..................................................................................................................         3
·         Bab I Pendahuluan...................................................................................................         4
-   Latar Belakang Masalah..................................................................................         4
-   Rumusan Masalah...........................................................................................         5
-   Tujuan Penulisan ............................................................................................         5
·         Bab II Pembahasan..................................................................................................         6
-   Pengertian Kebudayaan..................................................................................         6
-   Definisi Budaya..............................................................................................         6
-   Unsur-Unsur Kebudayaan...............................................................................        7
-   Faktor Yang Mempengaruhi Kebudayaan......................................................         8
-   Wujud Kebudayaan........................................................................................         9
-   Komponen Dalam Kebudayaan......................................................................         10
-   Cara Pandang Terhadap Kebudayaan.............................................................         11
-   Adat Istiadat...................................................................................................         12
·         Bab III Penutup.......................................................................................................         15
-   Kesimpulan......................................................................................................         15
-   Saran................................................................................................................         15
-   Penutup...........................................................................................................         16
-   Daftar Pustaka.................................................................................................         17


BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Ketika lahir lewat rahim ibu kita masing-masing, kita semua diperlakukan / dirawat oleh “perawat bayi” sebagaimana lazimnya dipanggil sebagai suster yang ada di rumah sakit, atau dukun beranak yang ada di kampung sekalipun.
Ketika indera mata dan fungsi pendengaran mulai bekerja (melek dan bisa mendengar suara) disaat-saat seperti itulah proses kebudayaan seorang anak manusia dimulai, agar belajar merespon situasi hingga akhirnya tak merasa asing serta mampu mengenali lingkungan disekelilingnya.
Fase awal belajar berkomunikasi lewat “satu dua patah kata” adalah proses pematangan bagi otak dan akal, yang mengisyaratkan kesiapan menerima pelajaran untuk bekal terbentuknya sifat kebudayaan seorang anak manusia itu sendiri. Disana seorang ibu dan ayah akan mengajarkan pada anak tersebut perilaku demi perilaku yang telah secara turun menurun diajarkan oleh para pendahulunya masing-masing. Hal tersebut yang kemudian kita kenal dengan kata “budaya” (perilaku yang dilandasi oleh etika yang diwajibkan saat itu).
Demikian seterusnya proses kebudayaan tersebut berkembang, hingga melebar dan meluas melibatkan berbagai elemen-elemen kebudayaan setiap keluarga dalam jumlah yang lebih banyak, sampai akhirnya masuk pada tahap bisa disebut sebagai Kebudayaan Satu Suku  Bangsa/Ras. Masing-masing diantara mereka semua, ada yang disebut sebagai Kebudayaan Jawa-Bali-Batak-Sumatra Selatan-Ambon-Bugis dan banyak lagi lainnya yang menghuni disetiap sudut jajaran kepulauan Nusantara.
Penggambaran diatas, merujuk kita untuk mulai memasuki wilayah yang jauh lebih kompleks. Yaitu bagaimana proses interaksi antara masing-masing suku bangsa diatas hingga mereka semua mau bersanding secara damai untuk hidup bersama, dengan kesepakatan bersama untuk tidak saling merugikan masing-masing pihak diantaranya. Namun justru membangun suasana gotong-royong yang akhirnya di wacanakan, agar bisa disebut “Bhinneka Tunggal Ika”

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka permasalahan yang dibahas dalam makalah ini apa itu definisi kebudayaan, wujud kebudayaan dan adat istiadat.
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui defnisi kebudayaan, wujud kebudayan dan adat istiadat.


BAB II
Pembahasan
A.    Pengertian Kebudayaan
Banyak berbagai definisi tentang kebudayaan yang telah di paparkan oleh para ahli. Dari berbagai definisi dapat diperoleh kesimpulan mengenai pengertian kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara lebih rinci, banyak hal-hal yang dapat kita pelajari tentang definisi kebudayaan. Bagaimana cara pandang kita terhadap kebudayaan, serta bagaimana cara untuk menetrasi kebudayaan yang faktanya telah mempengaruhi kebudayaan lain.
B.     Definisi Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya (Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri). Dan citra yang memaksa itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli    :
1.      Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
2.      Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
3.      Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
4.      Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

C.     Unsur-Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut            :
1.      Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
a. Alat-alat teknologi
b. Sistem ekonomi
c. Keluarga
d. Kekuasaan politik

2.      Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
a. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya.
b. Organisasi ekonomi.
c. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama).
d. Organisasi kekuatan (politik).


D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebudayaan
Beberapa faktor yang mempengaruhi kebudayaan secara garis besar adalah :
a.)     Faktor sekitar (lingkungan hidup, geografis)
Faktor lingkungan fisik lokasi geografis merupakan suatu corak budaya sekelompok masyarakat.
b.)    Faktor Induk Bangsa
Ada dua pandangan berbeda mengenai faktor induk bangsa ini, yaitu pandangan barat dan pandangan timur. Pandangan barat berpendapat bahwa perbedaan induk bangsa dari beberapa kelompok masyarakat mempunyai pengaruh terhadap suatu corak kebudayaan. Berdasarkan pandangan barat umumnya tingkat kaukasoid dianggap lebih tinggi dari pada bangsa lain, yaitu mongoloid dan negroid. Sedangkan pandangan timur berpendapat bahwa peran induk bukan sebagai faktor terlebih dulu lahir dan cukup tinggi pada saat bangsa barat masih “Tidur Dalam Kegelapan”. hal itu lebih jelas ketika dalam abad XX, bangsa jepang yang dapat dikatakan lebih rendah daripada bangsa barat.
c.)    faktor saling kontak antar bangsa
 Hubungan antar bangsa yang makin mudah akibat sarana perhubungan yang makin sempurna menyebabkan satu bangsa mudah berhubungan dengan bangsa lain.

Akibat adanya hubungan ini dapat atau tidak suatu bangsa mempertahankan kebudayaannya tergantung pada kebudayaan mana yang lebih kuat. Apabila kebudayaan asli lebih kuat maka kebudayaan asli dapat bertahan. Begitu pula sebaliknya apabila kebudayaan asli lebih lemah daripada kebudayaan asing maka lenyaplah kebudayaan asli dan terjadi budaya jajahan yang sifatnya tiruan.
A.    Wujud Kebudayaan
 Terdapat 3 wujud kebudayaan, yaitu            :
1.      Ide/ gagasan    : Suatu pola pikir. Contoh wujud kebudayaan dari gagasan pada masyarakat Yogyakarta ialah mempercayai adanya hal hal yang berbau mistis, seperti mempercayai benda-benda pusaka, makna motif batik dan lain-lain.
  1. Aktifitas          : Kegiatan/tindakan  yang di lakukan masyarakat. Contoh wujud kebudayaan dari aktifitas pada masyarakat Yogyakarta ialah siraman pusaka, labuhan, pemberian sesajen pada tempat yang di anggap terdapat sesepuh yang telah tiada, dan lain-lain.
  2. Hasil budaya   : Berupa suatu peninggalan, hasil karya/benda/fisik. Contoh wujud kebudayaan dari hasil budaya pada masyarakat Yogyakarta ialah keraton, alun-alun, batik, keris dan lain-lain.
 Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga
1.      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, 
nilai-nilainorma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak (tidak dapat diraba atau disentuh). Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling 
berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusialainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

  1. Artefak (karya)
    Artefak adalah wujud kebudayaan 
    fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
  • Kebudayaan material
    Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata atau konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi (mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dsb). Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial
    Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
B.     Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain  :
1.      Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
2.      Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan
3.      Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan.
4.      Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
5.      Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu          :
a.       Alat-alat produktif
b.      Senjata
c.       Wadah
d.      Alat-alat menyalakan api
e.       Makanan
f.       Pakaian
g.      Tempat berlindung dan perumahan
h.      Alat-alat transportasi
6.      Sistem mata pencaharian hidup
 Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
a.       Berburu dan meram
b.      Beternak
c.       Bercocok tanam di lading
d.      Menangkap ikan

C.    Cara Pandang Terhadap Kebudayaan
·         Kebudayaan sebagai peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap “kebudayaan” dan “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat dibandingkan yakni salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Artefak tentang “kebudayaan tingkat tinggi” (High Culture) oleh Edgar Degas.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik. Sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yang berkelas, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya adanya kebudayaan lain yang eksis. Mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”. Bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain”. Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature).

·         Kebudayaan sebagai sudut pandang umum
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme (misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria) mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat dibandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “Berkebudayaan” dengan “Tidak Berkebudayaan” atau kebudayaan “Primitif”.
Pada akhir abad ke-19, para ahli Antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan. Dan pada tahun 50-an, sub kebudayaan (kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya) mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli Sosiologi.

D.    Adat Istiadat
Adat istiadat mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain. Tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Setiap daerah pasti mempunyai suatu kebiasaan atau tradisi yang telah menjadi sebuah budaya di daerah tersebut. Hal ini merupakan sebuah kearifan lokal (local wisdom)  yang akan menjadi sebuah ciri khas dan mencerminkan keadaan penduduk sekitar.  Masyarakat Jawa beranggapan hal tersebut mampu dijadikan sebagai pegangan hidup dimasa yang mendatang. Menurut orang Jawa, kearifan tersebut bisa dijadikan sebagai pelataran dalam melihat perjodohan, keberuntungan, bahkan memprediksi hal-hal yang akan terjadi.


Pengertian Adat Istiadat Lengkap Beserta Ulasan Dan Definisi Menurut Para Ahli    :

·         Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
·         Adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi kegenerasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat (KBBI, 1988:5-6).
·         Adat istiadat adalah perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha diterapkan dalam lingkungan masyarakat.
  • Adat istiadat merupakan ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dahulu kala dalam diri masyarakat yang melakukannya.
  • Adat istiadat adalah himpunan kaidah-kaidah sosial yang sejak lama ada dan telah menjadi kebiasaan (tradisi) dalam masyarakat.
Macam-Macam Adat
·         Adat yang Sebenarnya adalah yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, dipindah tidak layu, dibasuh habis air. Artinya, semua ketetapan yang ada di alam ini memiliki sifat-sifat yang tak akan berubah, contohnya hutan gundul menjadi penyebab banjir, kejahatan pasti akan mendapat hukuman, kebaikan akan membuahkan kebahagiaan, dan seterusnya.
·         Adat yang diadatkan ialah semua ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat. Ketentuan-ketentuan ini dimodifikasikan oleh Datuk Nan Duo berdasarkan sifat benda-benda di alam. Gunanya untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dalam hal ketertiban, perekonomian, dan sosial budaya.
  • Adat yang teradat yaitu aturan yang terbentuk berdasarkan musyawarah. Setiap kelompok masyarakat memiliki aturan dan tata cara yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya.
  • Adat-Istiadat merupakan kebiasaan atau kesukaan masyarakat setempat ketika melaksanakan pesta, berkesenian, hiburan, berpakaian, olah raga, dsb.


Bentuk Adat Istiadat
Adat istiadat bisa berbentuk tertulis dan tidak tertulis. Contoh adat istiadat yang tertulis antara lain adalah            :
·         Piagam-piagam raja (surat pengesahan raja, kepala adat)
·         Peraturan persekutuan hukum adat yang tertulis seperti penataran desa, agama desa, awig-awig (peraturan subak di Pulau Bali).

Contoh adat istiadat yang tidak tertulis, antara lain adalah   :

·         Upacara ngaben dalam kebudayaan Bali
·         Acara sesajen dalam masyarakat Jawa
  • Upacara selamatan yang menandai tahapan hidup seseorang dalam masyarakat Sunda.
Kriteria Adat Istiadat
Kriteria yang paling menentukan bagi konsepsi tradisi itu adalah bahwa tradisi diciptakan melalui tindakan dan kelakuan orang-orang melalui fikiran dan imaginasi orang-orang yang diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya(Skils dalam Sayogyo,1985:90).


BAB III
PENUTUP
·         Kesimpulan
1.      Kebudayaan adalah suatu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak.
2.      Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

·         Saran
Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang terbentuk dari berbagai macam kebudayaan suku dan agama sehingga banyak tantangan yang selalu merongrong keutuhan budaya itu tapi dengan semangat kebhinekaan sampai sekarang masih eksis dalam terpaan zaman. Kewajiban kita sebagai anak bangsa untuk tetap mempertahankannya budaya itu menuju bangsa yang abadi, luhur, makmur dan bermartabat.


Penutup

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selesai sudah makalah “Definisi Kebudayaan, Wujud Kebudayaan, Dan Adat Istiadat” ini kami susun. Apabila terdapat kesalahan pada tulisan, pendapat, maupun hal lainnya yang berkenaan dengan makalah kami, kami minta maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalam

Penyusun

Daftar Pustaka

Forum Rektor Indonesia Simpul Jawa Timur (2003). Hidup Berbangsa dan Etika Multikultural.
Surabaya: Penerbit Forum Rektor Simpul Jawa Timur Universitas Surabaya.

Sulastomo (2003). Reformasi: Antara Harapan dan Realita. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Swasono, Meutia F.H. (1974). Generasi Muda Minangkabau di Jakarta: Masalah Identitas
Sukubangsa. Skripsi Sarjana. Jakarta: Fakultas Sastra UI.

--- (1999). “Reaktualisasi dan Rekontekstualisasi Bhinneka Tunggal Ika dalam Kerangka
Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, makalah pada seminar yang diselenggarakan oleh IAIN Syarif
Hidayatullah dan Yayasan Haji Karim Oei, Jakarta, 6 Mei.

 --- (2000). “Reaktualisasi Bhinneka Tunggal Ika dalam Menghadapi Disintegrasi Bangsa”,
makalah diajukan dalam Simposium dan Lokakarya Internasional dengan  tema “Mengawali
Abad ke-21: Menyongsong Otonomi Daerah, Mengenali Budaya Lokal, Membangun Integrasi
Bangsa”, diselenggarakan oleh Jurnal Antropologi Indonesia bekerjasama dengan Jurusan
Antropologi Universitas Hasanuddin, di  Makassar, 1-5 Agustus 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Zack Tabudlo - Give Me Your Forever Lyrics

  Do you remember When we were young you were always with your friends Wanted to grab your hand and run away from them I knew that it was ti...